Category Archives: Pengabdian Masyarakat

Press Release Orasi Guru Besar

Alhamdulillaahi rabbil aalamiin. Segala puji hanya milik Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, perkenankan saya menyampaikan press release berkaitan dengan kegiatan orasi ilmiah sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Teknologi Pertanian IPB, dengan judul :

Slide2Topik orasi ilmiah ini saya angkat untuk menunjukkan pentingnya keterpaduan berbagai disiplin ilmu dalam pembangunan agroindustri berkelanjutan. Berbagai kepentingan dalam pembangunan agroindustri harus dapat diselaraskan melaui pendekatan multidisiplin sehingga dampak pembangunan yang negatif seperti timbulnya limbah, rusaknya ekosistem dan menurunnya kualitas lingkungan dan kualitas hidup dapat diminimalisir, sedangakan manfaat bagi kemaslahatan masyarakat dapat ditingkatkan.

Naskah orasi ilmiah ini saya tulis dari hasil rangkuman kegiatan penelitian bersama rekan-rekan dosen, peneliti dan mahasiswa bimbingan selama ini. Besar harapan, semoga pemikiran-pemikiran yang disajikan dalam naskah ini dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang agroindustri.

PENDAHULUAN

Perubahan iklim sudah menjadi kata-kata yang sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Kenyataan ini perlu dipahami dan ditindaklanjuti secara tepat karena mekanisme terjadinya dan dampaknya yang cukup kompleks. Peringatan akan terjadinya perubahan iklim tersebut telah disampaikan kepada kita berabad-abad yang lalu, tetapi nampaknya kita tidak menanggapinya dengan serius. ”Telah tampak tanda-tanda kerusakan di laut dan di darat akibat ulah tangan manusia” (QS Ar-rum Ayat 41), begitu bunyi peringatan yang kita lalai untuk segera menyikapinya. Akibatnya banyak kejadian-kejadian berkaitan dengan kerusakan di laut dan di darat serta di udara yang kita alami.

Manusia memang mempunyai tugas menjadi kalifah di bumi. Dalam menjalankan tugas tersebut berbagai kegiatan dilaksanakan untuk menjaga eksistensi diri manusia di bumi. Salah satu kegiatan tersebut adalah bagaimana menyediakan segala macam keperluan hidup sebaik-baiknya. Dalam rangka penyediaan keperluan hidup tersebut manusia menjalankan suatu proses transformasi bahan baku menjadi produk yang siap dikonsumsi atau dimanfaatkan. Proses transformasi bahan baku hasil pertanian menjadi produk dalam skala komersial kita kenal dengan istilah Agroindustri. Indonesia sebagai suatu negara dianugerahi berbagai sumber daya alam, antara lain lautan yang kaya akan bahan-bahan bernilai ekonomis dan  kondisi tanah yang subur sehingga memungkinkan berbagai komoditi pertanian untuk dibudidayakan, seperti kopi, coklat, teh, kelapa, kelapa sawit, rempah, buah-buahan dan sayur-sayuran tropika, dan masih banyak lagi. Dari proses transformasi bahan baku hasil pertanian menjadi produk akan diperoleh nilai tambah bagi hasil- hasil pertanian tersebut. Ambil contoh hasil pertanian kelapa sawit, dari 1 ton Tandan Buah Segar/TBS (Fresh Fruit Bunch/FFB) akan dihasilkan 220 kg CPO (crude palm oil) dengan harga $ 800/ton  dan 20 kg CPKO (crude palm kernel oil) dengan harga $ 1200/ton. Selanjutnya dari 220 kg CPO dapat diolah menjadi 160 kg (73%) palm olein yang bisa digunakan langsung untuk minyak goreng dan 46 kg (21 %) palm stearin dan 11 kg (5%) hasil samping (by product). Ini semua merupakan produk hilir tingkat pertama. Produk hilir berikutnya bisa bermacam-macam, bisa untuk makanan bisa juga untuk produksi oleokimia.  Sedang dari 20 kg CPKO dapat diolah menjadi produk oleokimia sebagai produk hilir tingkat pertama seperti crude fatty acid sebanyak 19 kg (94 %)  dengan nilai tambah sebesar $ 400/ton dan glycerol 2 kg (12%). Lebih lanjut crude fatty acid dapat diolah menjadi oleokimia lanjutan seperti fatty alcohol dengan nilai tambah $ 800/ton, sabun dan lain-lain (wawancara langsung dengan Koordinator Hilirisasi Bakrie Sumatera Plantation, Juni 20017). Produksi kelapa sawit Indonesia sebesar 32 juta ton per tahun, dengan menggunakan contoh di atas sebagai dasar maka dapat kita hitung berapa nilai tambah yang diperoleh Indonesia melalui Agroindustri kelapa sawit, belum lagi kita hitung komoditi pertanian yang lain.

Produk agroindustri Indonesia diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri dan dapat diekspor bersaing di pasar internasional. Untuk itu proses agroindustri harus dijalankan secara efektif dan efisien. Praktek agroindustri yang efektif dan efisien menuntut adanya penguasaan dan implementasi rekayasa ekoteknologi untuk mendukung keberlanjutan agroindustri tersebut.

REKAYASA EKOTEKNOLOGI DALAM RANGKA PEMBANGUNAN  AGROINDUSTRI BERKELANJUTAN

Pada masa lampau pembangunan industri dilakukan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Manusia mengolah sumber daya alam secara maksimal untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Bahan baku yang digunakan kadang kala termasuk dalam bahan berbahaya dan beracun. Teknologinya pun relatif menghasilkan limbah dalam jumlah yang cukup besar tanpa ada pengolahan lebih lanjut. Seiring dengan berjalannya waktu, eksploitasi alam secara berlebihan ini menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan lingkungan. Hal ini ditandai dengan timbulnya berbagai  macam pencemaran lingkungan mulai dari pencemaran air, tanah dan udara.

Seiring dengan semakin rusaknya lingkungan akibat pembangunan industri, kini manusia mulai memikirkan strategi pengelolaan lingkungan. Pada mulanya strategi pengelolaan lingkungan mengacu pada pendekatan kapasitas daya dukung. Konsep ini kenyataannya sukar diterapkan, hal ini disebabkan oleh kendala yang ditimbulkan dan seringkali harus dilakukan upaya perbaikan kondisi lingkungan yang kemudian tercemar dan rusak, sehingga memerlukan biaya tinggi.

Konsep strategi kemudian berubah menjadi upaya pemecahan masalah dengan pengolahan limbah yang terbentuk (end of pipe treatment/ EOP) dengan harapan kualitas lingkungan bisa lebih ditingkatkan. Namun pada kenyataannya, pencemaran masih berlangsung. Hal ini dikarenakan konsep EOP membuat limbah tetap terbentuk dan seringkali pengolahan limbah hanya mengubah bentuk limbah dan memindahkannya dari satu media ke media lain. Selain itu, upaya ini juga meningkatkan biaya produksi, tetapi tidak setinggi upaya perbaikan kerusakan dan pencemaran. Peraturan perundang-undangan yang mengatur persyaratan pembuangan limbah pada umumnya cenderung dilanggar dan upaya penegakan hukum lingkungan belum berjalan sepenuhnya.

Konsep strategi pengelolaan lingkungan kemudian semakin berkembang dan berubah menjadi upaya preventif atau pencegahan, dan dikembangkan menjadi prinsip produksi bersih sebagai suatu strategi preventif yang operasional dan terpadu (Cheremisinoff dan Bendavid-Val,  2001).

Produksi bersih diperlukan sebagai cara untuk mengharmonisasikan upaya perlindungan lingkungan dengan kegiatan pembangunan agroindustri. Teknologi produksi bersih merupakan gabungan teknik pengurangan limbah pada sumber pencemar (source reduction) dan teknik daur ulang. Dalam produksi bersih, limbah yang dihasilkan dalam keseluruhan proses produksi adalah indikator ketidakefisienan proses produksi, sehingga bila dilakukan optimasi proses, limbah yang dihasilkan juga akan berkurang.

Pembangunan agroindustri yang menerapkan konsep produksi bersih akan mendapatkan banyak keuntungan baik dilihat dari segi lingkungan maupun dari segi ekonomi. Keuntungan yang didapat oleh suatu industri apabila menerapkan konsep produksi bersih adalah mengurangi biaya produksi, mengurangi limbah yang dihasilkan, meningkatkan produktivitas, mengurangi konsumsi energi, meminimisasi masalah pembuangan limbah (termasuk penanganan limbah), dan meningkatkan nilai produk samping.

Pada masa yang akan datang, pembangunan agroindustri diharapkan dapat menciptakan hubungan yang selaras dan seimbang dengan lingkungan. Pembangunan agroindustri tidak lagi menghasilkan polusi dan pencemaran. Tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan lingkungan mendorong industri untuk menerapkan konsep ramah lingkungan.

Pembangunan tidak hanya mengolah sumber daya yang ada, tetapi mengelola sumber daya itu sehingga masih akan tersedia bagi generasi yang akan datang. Hasil pembangunan yang direncanakan maupun yang terjadi di luar rencana tidak akan menurunkan atau menghilangkan kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan ke arah tingkat kualitas hidup yang lebih tinggi.

Mengaplikasikan teknologi ramah lingkungan, manajemen dan prosedur standar operasi sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan, kegiatan-kegiatan tersebut tidak selalu membutuhkan biaya investasi yang tinggi, kalaupun terjadi seringkali waktu yang diperlukan untuk pengembalian modal investasi relatif singkat. Pelaksanaan program produksi bersih ini lebih mengarah pada pengaturan sendiri (self regulation) dan peraturan yang sifatnya musyawarah mufakat (negotiated regulatory approach) dari pada pengaturan secara command and control. Jadi pelaksanaan program produksi bersih ini tidak hanya mengandalkan peraturan pemerintah saja, tetapi lebih didasarkan pada kesadaran untuk merubah sikap dan perilaku industri. Beberapa contoh industri yang telah dikaji untuk menerapkan produksi bersih antara lain industri tapioka, industri karet, industri gula, industri kayu lapis, dan industri crude palm oil (CPO).

Apa yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya di planet kita ini adalah penggunaan teknologi. Teknologi berasal dari bahasa Yunani dari akar kata techne yang berarti kerajinan atau seni, dan akar kata ology yang merujuk pada disiplin atau bidang studi.

Kita menggunakan teknologi untuk berkembang dan menyiapkan makanan, pakaian, rumah untuk keluarga kita, mendistribusikan sumberdaya melalui pasar dan mekanisme pasar lainnya, mengangkut kita mengelilingi planet kita atau lebih jauh lagi dan membuat kita sibuk serta menghibur kita.  Teknologi telah memperbaiki standar hidup dan meningkatkan usia harapan manusia, walaupun tidak sama rata. Namun demikian teknologi telah memberi manusia kemampuan untuk merubah dan mentransform bumi dengan cara yang dahulunya tidak pernah terbayangkan. Kita dapat mengirim manusia ke luar angkasa, merubah gunung menjadi lembah, dan mengangkut minyak dari bermil-mil jaraknya di bawah permukaan laut, serta kita juga mampu merubah bahan yang tidak bernilai menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi dan ramah lingkungan  (Muvaney, 2011).

Beberapa contoh rekayasa ekoteknologi yang pernah saya kembangkan bersama tim, teman sejawat dan mahasiswa bimbingan baik program S1, S2 maupun S3  adalah rekayasa ekoteknologi pengomposan, ekstraksi kitin dan produksi kitosan, nanosilika dan nanoseng, membran filtrasi dan membran elektrolit. Teknologi-teknologi seperti inilah (ekoteknologi) yang dapat menyelamatkan peradapan manusia dan lingkungan karena dapat menggantikan teknologi konvensional degan lebih ramah lingkungan. Ketika hubungan manusia dan lingkungan berkembang, teknologi inilah dapat diaplikasikan untuk membuat hubungan manusia dan lingkungan lebih berkelanjutan.

PENUTUP

Pembangunan agroindustri yang menerapkan konsep produksi bersih akan mendapatkan banyak keuntungan baik dilihat dari segi lingkungan maupun dari segi ekonomi. Keuntungan yang didapat oleh suatu industri apabila menerapkan konsep produksi bersih adalah mengurangi biaya produksi, mengurangi limbah yang dihasilkan, meningkatkan produktivitas, mengurangi konsumsi energi, meminimisasi masalah pembuangan limbah (termasuk penanganan limbah), dan meningkatkan nilai produk samping.

Paparan mengenai keuntungan penerapan konsep produksi bersih dalam industri merupakan feedback atau umpan balik positif terhadap investasi yang telah dikeluarkan oleh perusahaan untuk penerapan produksi besih. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa investasi penerapan produksi bersih berbanding positif terhadap keuntungan yang didapat perusahaan. Beberapa contoh industri yang telah dikaji untuk menerapkan produksi bersih antara lain industri tapioka, industri karet, industri gula, industri plywood/kayu lapis, dan industri CPO.

Implementasi produksi bersih dapat menjadi ”win-win solution” bagi kepentingan bisnis dan lingkungan. Untuk mendukung implementasi prinsip-prinsip produksi bersih peran ekoteknologi sangat penting. Beberapa contoh pengembangan produk hijau seperti kompos, chitin-chitosan, nanosilika, membran filtrasi dan membran elektrolit merupakan wujud implementasi rekayasa ekoteknologi yang dapat menguntungkan bagi kehidupan manusia. Bila dari bahan yang tidak bernilai melalui rekayasa teknologi dapat dirubah menjadi produk bernilai ekonomi dan memberikan kemaslahatan bagi kehidupan, maka sesungguhnya upaya manusia sebagai kafilah di muka bumi untuk memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia secara bijaksana sungguh merupakan sebuah keniscayaan. Billa Allah telah menyediakan keperluan manusia dengan sesempurna seperti ini, maka nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan. Sesungguhnya jika engkau pandai bersyukur, maka nikmatmu akan ditambah.

Semoga Allah berkenan memberikan manfaat dari orasi ini bagi kita semua.

Billaahit taufiq wal hidaayah

Wassalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh

Re-Akreditasi Laboratorium Pengujian TIN

Komite Akreditasi Nasional (KAN) melaksanakan kegiatan Re-Akreditasi terhadap Laboratorium terakreditasi ISO/IEC 17025-2008  yang dimiliki oleh Laboratorium Pengujian Departemen Teknologi Industri Pertanian (TIN-IPB)  dengan No. LP-323-IDN, di Darmaga Bogor pada hari Senin – Selasa tanggal 8-9 Desember 2014.

Akreditasi Lab. Pengujian TIN akan berakhir pada 25 Mei 2015, sesuai dengan peraturan KAN, maka setiap Lab yang akan habis masa akreditasinya maka harus segera melakukan proses Re-akreditasi. Agenda ini merupakan salah satu persyaratan bagi laboratorium pemegang akreditasi dari KAN yang wajib dilaksanakan apabila waktu akreditasi akan berakhir. Tahun ini Re-Akreditasi dilaksanakan terhadap beberapa ruang lingkup, yaitu: ruang lingkup Air Limbah, Air Minum, Air Bersih, Sludge, Gula Kristal Mentah dan Tepung.

Prof. Nastiti Siswi Indrasti selaku Ketua Departemen membuka acara tersebut secara resmi, di ruang sidang TIN. Acara tersebut dihadiri juga oleh Prof. Suprihatin selaku Manajer Teknis II, Dr. Dwi Setyaningsih selaku Manajer Mutu, Angga Yuhistira, MSi selaku Deputi Manajer Mutu,  serta jajaran manajemen beserta personil laboratorium terkait. Dari pihak KAN menugaskan dua orang assessor yaitu Bapak Tahid sebagai Lead Assessor dan Ibu Niniek sebagai anggota/tenaga ahli.

Lab. Pengujian TIN-IPB sebagai Laboratorium penguji yang telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) sejak tahun 4 Agustus 2006 telah menerapkan Sistem Manajemen Mutu sesuai dengan SNI ISO/IEC 17025 : 2008, maka proses Re-Akreditasi merupakan prosedur yang harus dilaksanakan oleh Lab. Pengujian TIN untuk mempertahankan masa berlakunya status Akreditasi setiap 4 (empat) tahun sekali sesuai masa berlakunya sertifikat Akreditasi. Walapun masa berlakunya hingga 25 Mei 2015, berdasarkan peraturan KAN bahwa setiap laboratorium wajib mengajukan Re-Akreditasi selambat-lambatnya 6 bulan sebelum masa berlakunya berakhir.

Pada prinsipnya Laboratorium Pengujian Departemen TIN IPB dalam melaksanakan kegiatannya masih mengacu pada Sistem Manajemen Mutu sesuai dengan SNI ISO/IEC 17025 : 2008 secara konsisten dan didukung oleh personel, peralatan, metode uji dan sarana dan prasarana yang memadai, walaupun berdasarkan hasil asesmen masih ada beberapa ketidaksesuaian yang perlu diperbaiki untuk direkomendasikan dan diperpanjang masa Akreditasinya. Hasil asesmen menyangkut persyaratan manajemen dan persyaratan teknis. Hasil ini juga menjadi bahan masukan dan perbaikan yang berkelanjutan bagi Lab. Pengujian TIN IPB.

Penutupan Re-Akreditasi
Gambar 1. Tim Asesor dan Tim Laboratorium pada saat Penutupan

Berdasarkan hasil kegiatan Re-Akreditasi yang telah dilaksanakan oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) di Laboratorium Pengujian Departemen TIN-IPB selama 2 (dua) hari yaitu tanggal 8sampai dengan 9 Desember 2014 dapat disimpulkan sebagai berikut :

Hasil assesmen di lapangan bahwa untuk bidang–bidang pengujian yang diajukan dapat direkomendasikan untuk diperpanjang masa akreditasinya setelah Laboratorium menindaklanjuti semua ketidaksesuaian dengan memuaskan

Kami sampaikan banyak terima kasih kepada Asesor Kepala, Asesor Anggota (tenaga ahli) dan kepada Pimpinan Puncak beserta seluruh personil Laboratorium Pengujian Departemen TIN-IPB atas terlaksananya kegiatan Re–Akreditasi, dengan harapan setelah perbaikan ketidaksesuaian, maka Laboratorium Pengujian Departemen TIN-IPB dapat diperpanjang masa Akreditasinya

Sumber : labtin